Sunday, August 17, 2014

Batik Motif Biak Kas Papua



Batik motif khas Biak, Papua hasil karya lima sanggar pengrajin batik akan diperkenalkan ke masyarakat pada 28 Oktober 2014. 


          "Pengenalan batik khas Biak dilakukan pelatihan bagi pengrajin batik khas Biak," kata Dance Warnares, Kasi Seni Rupa dan Seni Ukir Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemerintah Kota.
Dance menjelaskan mengenai lahirnya karya anak bangsa ini. Awalnya, kata Dance, batik motif khas Biak Papua ini dari hasil didikan pengrajin Arimbi Yogyakarta di lima sanggar pengrajin batik. Nantinya, batik khas Biak akan diluncurkan pada 28 Oktober 2014.
          "Pembuatan batik Biak bersama lima kelompok sanggar merupakan hasil pengrajin Arimbi Yogyakarta," kata Dance. Dia mengakui, keberadaan batik Biak sudah sekitar lima sampai delapan tahun belakangan. Namun, dia melihat animo masyarakat cukup tinggi untuk mengetahui keberadaan batik khas Biak.
          Untuk memproteksi, pihaknya akan melakukan pendaftaran hak cipta untuk menjaga originalitas corak batik ini. "Pemkab melalui Dinas Pariwisata dan Kekayaan Biak akan terus melestarikan beragam karya seniman dan pengrajin dengan mendaftarkan sebagai hak atas kekayaan intelektual,".
          Jika dilihat coraknya, batik khas Biak memiliki karakter asli tanah Papua. Antara lain lebih menampilkan kekayaan hayati warga Papua. Mulai dari gambar masyarakat Papua yang gunakan koteka, corak burung cenderawasih, motif gunung Jaya Wijaya, corak alat musik khas Papua bernama tifa, triton, dan pikon. Corak lain juga ada menampilkan birunya Danau Sentani, batik Asmat dan batik Komoro.
          Sedangkan deskripsi berdasarkan warnanya, batik Biak ini lebih berani dan menampilkan warna-warna lebih menantang, seperti hijau terang, merah terang, biru terang, meskipun ada pula warna yang tidak terlalu mencolok. Namun, kualitas bahan dan produk batik khas Biak tidak kalah dengan batik Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Madura, Cirebon, dan wilayah lain.
          Untuk harganya, batik Biak memang lebih mahal. Bisa dibanderol sekitar Rp 200.000 sampai Rp 4.750.000 per lembar. Harga itu bervariasi dengan bahan dan cara pembuatan. Meskipun batik Papua masih dibilang anyar di dunia perbatikan, namun 80 persen pasar pembeli berasal dari internasional. Antara lain: Belanda, Australia dan Jepang.

No comments:

Post a Comment

Be Someone Who Seeks Comfort And Style